Konsep Ikhlas Menurut Buya Hamka Dan Relevansinya Dengan Pendidikan Islam Di Era 5.0

Authors

  • Zahrani Amrina UIN Raden Intan Lampung

DOI:

https://doi.org/10.31943/pedagogia.v6i1.147

Keywords:

Ikhlas, Buya Hamka, Pendidikan Islam

Abstract

Di era sekarang, masih banyak ditemukan manusia yang lebih cenderung untuk memandang bahwa hidup ini tidak ada yang gratis, selalu ada cost (harga) yang harus dibayar, hal ini menjadikan dominasi mereka untuk selalu memperhitungkan untung rugi dalam segala aspek Kehidupannya. Berdasarkan masalah tersebut penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep ikhlas menurut Buya Hamka serta menganalisis relevansinya dengan pendidikan Islam di era Society 5.0. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research). Data primer dan sekunder diperoleh melalui penelitian kepustakaan dengan alat pengumpul data berupa metode dokumentasi. Setelah data terkumpul, selanjutnya dilakukan analisis. Adapun teknik analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah analisi isi (content analysis) yaitu penelitian yang dilakukan terhadap informasi yang didokumentasikan dalam rekaman baik dalam gambar, suara maupun tulisan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Konsep ikhlas dalam buku tasawuf modern karya Buya Hamka artinya bersih, tidak ada campuran apapun dan bisa diibarat dengan emas, emas tulen, tidak ada campuran perak berapa persen pun. Tempat ikhlas dan isyrak ialah hati, Jika seseorang ingin melakukan sesuatu, maka mulai melangkah sudah dapat ditentukan kemana tujuan dan apa dasarnya.  Ucapan dan tindakan harus selaras dengan niat dalam hati.  Relevansi ikhlas menurut Buya Hamka dalam pendidikan Islam di era 5.0 adalah: Ikhlas pada aspek tujuan pendidikan, ikhlas menjadi fondasi utama dalam pendidikan Islam untuk membentuk insan kamil yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki orientasi spiritual yang kuat di tengah tantangan era society 5.0. Ikhlas pada Aspek peserta didik, ikhlas sebagaimana digambarkan Buya Hamka adalah bebas dari segala campuran niat lain selain karena Allah. Ini sangat relevan bagi peserta didik masa kini, agar mereka tidak hanya menjadi generasi yang cerdas secara teknologi, tetapi juga memiliki integritas, tanggung jawab, dan kesadaran spiritual. Ikhlas pada Aspek pendidik, Keikhlasan dalam profesi kependidikan, merupakan pondasi utama yang menjadikan tugas mendidik bukan semata pekerjaan duniawi, melainkan bentuk ibadah dan ketaatan kepada Allah SWT yang menghadirkan nilai spiritual dalam setiap proses pendidikan.

References

Cartika candra ledoh, Loso Judijanto, Tuti Hartati, Apriyanto. Pendidikan Abad 21. Jambi: Pt. Sonpedia Publishing Indonesia, 2025.

Daud, Miss Rosidah Haji, Salman Abdul Muthalib, and Muslim Djuned. “Konsep Ikhlas Dalam Al-Qur‘An.” TAFSE: Journal of Qur’anic Studies 2, no. 2 (2017): 86. https://doi.org/10.22373/tafse.v2i2.13635.

Hamka. Pribadi Hebat. Jakarta: Gema Insani, 2014.

Hamka, Buya. Tafsir Al Azhar Juz Xxx. Jakarta: PT Pustaka Panjimas, 1982.

———. Tasawuf Modern. Jakarta: Republika penerbit, 2015.

Hermawan, Iwan, and Nurwadjah Ahmad. “Konsep Amanah Dalam Perspektif Pendidikan Islam.” QALAMUNA: Jurnal Pendidikan, Sosial, Dan Agama 12, no. 2 (2020): 141–52. https://doi.org/10.37680/qalamuna.v12i2.389.

Hidayah, Nurul, Ade Rizal Rosidi, and Amrini Shofiyani. “Konsep Ikhlas Menurut Imam Al-Ghazali Dan Relevansinya Terhadap Tujuan Pendidikan Islam.” Urwatul Wutsqo: Jurnal Studi Kependidikan Dan Keislaman 12, no. 2 (2023): 190–207. https://doi.org/10.54437/urwatulwutsqo.v12i2.957.

Irawan, Toni, Eva Dewi, Syaiful Dinata, M Dwi Rahman, and Muhammad Firdaus. “Pendidikan Karakter Perspektif Buya Hamka Dalam Buku Pribadi Hebat Serta Relevansinya Dengan Pendidikan Islam Kontemporer” 8, no. 1 (2025): 11–30.

Lismijar. “Pembinaan Sikap Ikhlas Menurut Pendidikan Islam.” Jurnal Intelektual 5, no. 2 (2019): 83–105. https://jurnal.uin-antasari.ac.id/index.php/proceeding/article/view/3754.

Mawaddah, Ahmad Muzakki, Shofiatun Nikmah. “Penerapan Konsep Tasawuf Tentang Sabar Dan Ikhlas Di Lingkungan Pondok Pesantren Pusat Putri Zainul Hasan Genggong.” Al-Fatih: Jurnal Pendidikan Dan Keislaman 7, no. 1 (2025): 42–64. https://doi.org/10.47453/eduprof.v7i1.287.

Najib, Muhammad Ainun. “Epistimologi Tasawuf Modern Hamka.” Jurnal Dinamika Penelitian: Media Komunikasi Sosial Keagamaan 18, no. 2 (2018): 303–24.

Permata, Desy Helma, and Ibnu Khaldun. “Relevansi Ikhlas Dan Mukhlis Di Era Kontemporer (Kajian Surah Al-Bayyinah Dan Alikhlas).” Jurnal Studi Ilmu Qur’an Dan Hadis (SIQAH) 1, no. 1 (2023): 1–12. file:///C:/Users/ASUS/Downloads/6078-Article Text-18913-1-10-20230210.pdf.

Rahmah, Siti. “Urgensi Tasawuf Di Tengah Pandemi Covid.” Alhadharah: Jurnal Ilmu Dakwah 19, no. 2 (2021): 74. https://doi.org/10.18592/alhadharah.v19i2.4052.

Siti Nurjanah, Akbar Tanjung. “Aktualisasi Tasawuf Buya Hamka Di Era Postmodern.” Indonesian Journal of Islamic Theology and Philosophy 5, no. 1 (2023): 65–92.

Subhi, Muhammad Rifa’i. “Kepribadian Dalam Perspektif Hamka.” Jurnal Fokus Konseling 4, no. 1 (2018): 51–61. http://ejournal.stkipmpringsewu-lpg.ac.id/index.php/fokus/article/view/501/281.

Sulaiman Sihombing, Muawwalul Bahafi Alamsyah. “Integrasi Nilai Tasawuf Dalam Pendidikan Karakter Perspektif Pemikiran Buya Hamka.” Man-Ana: Jurnal Pendidikan Agama Islam 2, no. 5 (2024): 524–32.

Zahro, Nur Fatimatuz. “Pendidikan Dasar Islam Sebagai Fondasi Pembangunan Moral Dan Sosial Di Era Globalisasi” 11 (2024): 1–12.

Zed, Mestika. Metode Penelitian Kepustakan. jakarta: Yayasan pustaka obor indonesia, 2014.

Downloads

Published

2026-03-30

How to Cite

Zahrani Amrina. (2026). Konsep Ikhlas Menurut Buya Hamka Dan Relevansinya Dengan Pendidikan Islam Di Era 5.0. Journal Islamic Pedagogia, 6(1), 9–20. https://doi.org/10.31943/pedagogia.v6i1.147